DESTINATION, NTT

JELAJAH NTT DALAM SEMINGGU

“Ini beneran bakal 6 jam jalur darat?”

Begitulah pertanyaan dan reaksi saya ketika kami sudah mendarat di bandar udara Soa Bajawa, Flores. Ya, perjalanan #XplorNTT kali ini memang akan berbeda. Kami akan overland di tanah Flores dan juga kabupaten-kabupaten di Timor.

Rencana awal kami harusnya sudah tiba di Bajawa sehari sebelumnya, tapi jadwal penerbangan yang mendadak dibatalkan karena cuaca buruk, akhirnya kami menginap semalam lagi di kota Kupang.

PERTAMA KALI KE BAJAWA

Kesan pertama saya ketika memasuki ibukota Ngada ini adalah dingin. Bukan dingin sambutannya ya, emang cuaca di sini mirip kayak di Bedugul. Saya aja sampai pakai jaket. Tujuan pertama kami adalah Bukit Wolobobo di desa Turekisa, kecamatan Gelowa Barat, Kabupaten Ngada. Lagi-lagi, suasana di sini menyambut kami dengan dingin. Kabut dan hujan pun turun. Tapi karena sudah sore, kami gerak cepat buat keliling bukit yang masuk sebagai nominasi API Awards 2021.

Kabutnya tiap menit berubah, lebih tebal dan terkadang mulai cerah. Sayangnya kami kurang beuruntung ketika menunggu sekitar 30 menitan, kabutnya belum kunjung hilang. Alhasil kami gagal melihat tampak jelas dari Gunung Inerie, pemandangan khas dari puncak Wolobobo ini.

Di sisi lain yang justru menarik adalah suasana di sini malah jadi lebih tenang saat berkabut. Menikmati semilir angin sambil sesekali bergantian naik tangga pohon melihat lembah yang masih terlihat terbatas di balik kabut.

Bukit Wolobobo masuk nominasi API AWARDS 2021 kategori DATARAN TINGGI.

BAJAWA – MAUMERE

Perjalanan darat yang cukup melelahkan sekitar 7 jam berhasil membuat saya mual. Supir kami yang orang lokal membuat perut saya dikocok-kocok gak karuan. Kami singgah sebentar untuk makan di Ende. Ya, jalur darat Bajawa ke Maumere melewati kota Ende. Maunya sih mampir nginap semalam buat ke Kelimutu haha, tapi misi kali ini bukanlah destinasi mainstream melainkan membantu promosi destinasi-destinasi baru yang ada di Nusa Tenggara Timur.

Sampai di Sikka, Maumere kami diajak ke Akusikka, semacam galeri tenun khas Frores. Kami melihat para ina/ibu menenun langsung. Tak lupa juga kami belanja buat buah tangan, tenun khas Sikka.

Galeri Akusikka, kabupaten Sikka masuk nominasi API AWARDS 2021 kategori DESTINASI BELANJA.

MAUMERE – LARANTUKA

Overland memang menguras banyak tenaga dan waktu, ditambah jadwal kami sehari lebih lambat, membuat team harus memadatkan jadwal kunjungan ke beberapa destinasi.

Tujuan kami selanjutnya adalah Kampung Adat Lewokluwok yang ada di kecamatan Demon Pagong, kabupaten Flores Timur. Sambutan meriah dari seisi desa membuat kami kagum dan terkejut. Tidak ada satupun dari kami yang mengira akan ada upacara penyambutan sebagus ini. Mulai dari upacara penyambutan tamu di gerbang masuk desa, sampai prosesi adat lainnya yang sudah disiapkan oleh para kepala desa dan kepala adat di Lewokluok.

Apa yang unik?

Desa Lewokluok terdiri dari beberapa dusun namun masih ada di kawasan yang sama. Ada beberapa suku yang tinggal di desa ini yaitu suku Kabelen, suku Lewo Lein, suku Beribe dan suku Nedabang. Mereka hidup rukun dengan tatatan budaya masing-masing.

Penduduk desa Lewokluok adalah penganut agama Katolik. Tidak heran di tengah desa berdiri gereja besar Santa Maria diangkat ke Surga. Gereja ini berdiri megah yang bisa menampung 800 kepala keluarga di Lewokluok.

Ada lagi tradisi nikahan di Lewokluok. Mahar atau maskawinnya menggunakan gading gajah. Mereka percaya bahwa mencari gading sangat susah dan jarang ditemui, sehingga dianggap pria yang mempersunting seorang wanita desa akan kerja keras dan bertanggungjawab.

Desa Lewokluok masuk nominasi API AWARDS 2021 kategori KAMPUNG ADAT.

KOTA LARANTUKA

Perjalanan dari Desa Lewoklouk ke pusat kota Larantuka sekitar 1 jam 30 menit. Jalanan sudah mulus dan aspal hitam.

Sebelum kami terbang ke Kupang, kami mampir ke salah satu ikon dari kota Larantuka yaitu Gereja Katedral Renha/Reinha Rosari Larantuka. Sebuah gereja katolik yang melegenda lewat upacara tahunan Semana Santa. Gereja ini berdiri megah dengan arsitektur khasnya.

Gereja ini berada di Jl. Pastoran, Postoh kota Larantuka.

KEMBALI KE TIMOR TENGAH SELATAN

#XplorNTT kembali ke tanah Timor. Destinasi berikutnya adalah Fatumnasi, dataran tinggi yang melewati jalur SOE. Tujuan kami adalah cagar alam Gunung Mutis yang khas itu. Dari kota kupang kami menempuh perjalan sekitar 3,5 jam jalur darat. Kami menginap di soe semalam. Jam 5 pagi kami memulai perjalan ke Fatumnasi.

Ini adalah kali ke tiga saya ke sini. Infrastrukturnya semakin membaik. Suasana pagi yang menyambut kami cukup indah. Ada puluhan kuda lagi merumput. Daun-daun kering di tanah membuat saya freak sendiri. Menikmati suara gesekan langkah ketika berjalan. Matahari pagi menembus daun pepohonan yang menyinari hutan bonsai di Mutis membuat saya semakin cinta dengan tempat ini.

Gunung Mutis memiliki luas ratusan hektar dengan pohon lumut yang tersebar. Ketika musim kemarau seperti sekarang, tampak rumput menguning yang membuat suasananya jadi berbeda.

Gunung Mutis masuk nominasi API AWARDS 2021 kategori SURGA TERSEMBUNYI.

Selain memang indah, hutan Mutis juga sangat “photogenic” tiap sudut cakap banget buat berfoto. Lihatlah lorong-lorong pohon berlumutnya sungguhlah indah.

Saya sempat mengabadikan banyak momen di sini, termasuk ketika saya menggunakan kemeja denim dan jeans Lois Indonesia dengan latar pohon Mutis dan dedaunan kering yang jatuh ke tanah.

Oh ya selama trip #XplorNTT kemarin saya menggunakan beberapa apparel dari Lois Indonesia termasuk juga totebag yang bahannya denim. Kualiasnya kuat banget. Yang utama tetap terlihat trendy dan gaya :).

Tidak jauh dari cagara alam Gunung Mutis, kami singgah di Lopo Mutis. Homestay dengan bangunan khas suku Timor. Lopo Mutis dikelola oleh pak Mateos Anin (kepala suku Fatumnasi dan sekaligus juru kunci Gunung Mutis). Lopo Mutis juga sudah menambah homestay di bagian baratnya. Turis yang mau trip ke Fatumnasi bisa menginap di sini.

TIMOR TENGAH UTARA

Dari Fatumnasi, eksplorasi darat kami lanjutkan ke bagian Utara. Timor Tengah Utara, kabupaten di penghujung Pulau Timor, NTT. Kami mampir ke gereja Katedral Santo Antonius Padua atau yang terkenal juga dengan sebutan Gereja Del Piero. Gereja ini terletak di Jl. Eltari km 7 Sasi, Kota Kefamenanu, TTU.

Hmm tampak gak asing yah namanya? Betul, rumor yang beredar itu benar. Nama gereja ini diambil dari nama legenda pesepakbola Juventus asal Italia Alessandro Del Piero. Del Piero adalah salah satu donatur untuk pembangunan gereja ini yang diresmikan pada tahun 2006.

Pastor Antonio Razzoli, OFM Conv, adalah paman dari Del Piero yang menjadi pastor perintis pertama di Timor Tengah Utara.

Suasana Eropa terlihat banget dari gaya arsitektur gereja ini. Sayangnya pas ke sini kami belum bisa masuk dikarenakan petugas sedang jam istirahat, sementara kami harus melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya.

Dari Kota Kupang, perlu 4-5 jam menuju ke Kefa, lokasi berdirinya gereja ini.

TUAMESE

Masih berada di kabupaten Timor Tengah Utara, kami bertolak ke Tuamese. Sebuah destinasi baru yang mulai populer di bagian timur TTU. Sekilas jika dilihat dari bukit, seperti pulau-pulau yang ada di Pulau Padar. Tuamese menawarkan pemandangan alam laut dengan beberapa titik bukit untuk menyaksikan sunrise dan sunset.

Kami tiba sudah gelap, sehingga kehilangan momen matahari tenggelam. Dari Kefamenanu, perjalanan ditempuh sekitar 2,5 jam ke Tuamese.

Tuamese masuk nominasi API AWARDS 2021 kategori DESTINASI BARU.

LELOGAMA DI KABUPATEN KUPANG

Ini adalah destinasi terakhir di #XplorNTT kali ini. Bukit Lelogama, bukit sejuta bintang. Bukit ini menjadi lokasi terbaik untuk melihat dan mengabadikan milkyway malam hari. Karena siang hari gak ada taburan bintang, menikmati keindahan bukit-bukit dan gunung dari sini juga gak kalah asik.

Lelogama berada di kecamatan Amfoang Selatan kabupaten Kupang. Dari pusat kota Kupang berkendara selama kurang lebih 3 jam. Akses ke destinasi ini sudah aspal hitam, hanya ritmenya cukup berkelok-kelok. Yang gampang mabuk darat kayak saya sebaiknya jalan santai saja πŸ™‚

Bukit Sejuta Bintang Lelogama masuk nominasi API AWARDS 2021 kategori EKOWISATA.

Sampai ketemu di #XplorNTT berikutnya, salam lestari dari bumi Timur Indonesia!

Leave a Reply