DESTINATION, Papua, TOP CHOICE

Akhirnya Mendarat Juga Di Jayapura

papua-festival-danau-sentani

 

Setelah perjalanan panjang dan pantat berasa tirus, saya dan beberapa teman blogger mendarat tampan di Sentani International Airport.  Siang yang luar biasa panas. Belum sempat pakai sunblock udah kebakar aja tangan dan leher.

Oh…Perjalanan ke Papua ini adalah bepergian kedua semenjak saya tiba di Indonesia selepas kuliah di US. Sebelumnya saya ke Bandung, sekalian temu kangen dengan keluarga dan handai tolan. Jangan tanya, gimana perasaan ketika mendarat di Sentani, perasaan bercampur aduk. Akhirnya bisa mampir ke provinsi yang waktu SD hanya ada di buku bacaan dan peta sekolah. Foi Moi Sentani!

Oh yah mau cerita sedikit tentang tas backpack yang super ringan ini. Ini dari Kalibre, tipenya Romsdal 24 liter. Cukuplah buat baju seminggu plus camera dan laptop. Yang saya suka dengan backpack ini sangat stylish tapi tetap tahan dengan banyak beban. Mampir deh ke instagramnya @iamkalibre kali aja suka 🙂

Selama seminggu di Jayapura, saya cuma bawa backpack ini mau ke laut atau hutan. Sejauh ini nyaman saja. Yang paling penting juga, ada mantel anti hujan di kantong kecil bawah tas, jadi aman kalau  lagi hujan di tengah jalan.

Agenda utama kami ke Jayapura adalah menyaksikan Festival Danau Sentani yang ke 11. Ini adalah festival budaya tahunan yang digelar di area danau Sentani. Sentani adalah kota kecil atau biasa disebut distrik tidak jauh dari Jayapura. Sementara Jayapura adalah ibukota Papua. Dari Sentani ke pusat kota Jayapura bisa ditempuh 45 menit sampai 1 jam perjalanan menggunakan mobil.

Tarian Isosolo

Festival Danau Sentani tahun ini dipusatkan di pantai Khalkote. Seperti yang terlihat di gambar di bawah ini, tempat saya mengambil gambar adalah dermaga Pantai Khalkote. Terlihat rombongan penari datang dari desa pulau seberang untuk meramaikan festival danau Sentani.

festival-danau-sentani

danau-sentani-jayapura

Festival Danau Sentani diselenggarakan selama 5 hari penuh dengan berbagai atraksi budaya dan pameran. Selain pertunjukan di atas panggung megah, area festival juga dikelilingi stand-stand untuk memperlihatkan karya seni dari Papua.

festival-danau-sentani-2018

Tarian Isosolo adalah salah satu tarian yang paling ditunggu di acara ini. Tarian yang dipersembahkan warga Sentani di atas kapal di danau Sentani. Mereka datang dari pulau seberang lalu “menyerbu” area panggung festival. Saya sampai merinding menyaksikan kemegahan tarian ini. Ahhhh makin cinta dengan budaya negeri ini.

Dari muda hingga tua, semua bersemangat dan total dalam menari sambil beryanyi. Ditambah lagi riasan kapal dari daun pohon kelapa, menjadikan kapal yang mereka tumpangi menjadi daya tarik sendiri buat para pengunjung. Tidak heran pengunjung festival Danau Sentani selalu ramai. Tahun ini saja, pengunjung yang datang mencapai 50 ribu orang menyaksikan festival danau Sentani. Hebat!

Ragam Kuliner Khas Papua

Tak lengkap rasanya jika tidak melihat langsung dan mencicipi makanan khas lokal. Puluhan jenis kuliner Papua tersaji dengan gamblang di sepanjang booth kuliner festival. Mulai dari sate sampai ulat sagu yang dibakar. Saya juga sempat icip-icip ulat sagu. Rasanya kayak udang. Beda lagi kalau yang masih hidup. Terasa seperti kelapa muda ketika isi perut ulat menyatu dengan kulitnya. Nyam!

Oh ada lagi Papeda yang begitu cepat membuat kenyang. Makanan paling populer dari tanah Papua ini wajib kalian coba kalau ke Papua. Dicampur kuah kuning dan ikan mujahir, rasanya bergetar. Papeda diolah dari pohon sagu, disaring lalu diseduh air panas.

Body & Face Painting

Saya juga menyaksikan langsung kontes lukis wajah dan badan di arena festival danau Sentani. Para pelukis unjuk bakat memberikan lukisan terbaik di tubuh peserta. Hasilnya pun fantastis. Setiap detil yang mereka goreskan patut diacungi jempol.

Malam Puncak

Ini bukan malam puncak akademi fantasi atau puncak kenikmatan yang biasa orang dewasa ucapkan. Ini konser dan pagelaran di malam terakhir penutupan Festival Danau Sentani 2018. Penonton disuguhkan dengan atraksi budaya yang lebih hebat dari sebelumnya. Ratusan orang menjadi bagian acara malam itu. Salah satu yang paling saya ingat adalah Tari Kolosal yang melibatkan ratusan anak-anak sekolah Sentani. Penampilan mereka berkelas betul. Selain gerakan yang epik, penampilan mereka juga dibalut dengan megahnya 3D video mapping. Layar raksasa dipanggung berubah menjadi tayangan serba sinematis. Kelas!

Acara ditutup dengan penampilan grup vokal Papua Original. Sejumlah lagu andalan mereka nyanyikan dengan baik. Anak-anak muda papua yang semakin merapat ke panggung menjadi makin tak terbendung dikala Papua Original menyanyikan lagu-lagu Papua yang penuh makna. Kemudian diakhir lagu, para penampil dan penonton berjoged bersama. Malam puncak kala itu benar-benar megah.

Ini hanyalah sepenggal cerita yang terekam lewat kamera dan catatan. Banyak hal yang menarik yang disaksikan mata selama di Sentani. Datanglah ke Sentani, keindahan menunggu di sana.

 

24 Comments

  1. Wahhh… Kakak richo, bener banget tarian kolosal sangat spektakuler dan yang pasti kita harus melestarikan kebudayaan daerah asal ya

  2. wow suka deh koleksi fotonya kak richo. Seneng banget dah yah bisa liat salah satu festival terbesar di Papua ini.

  3. Selamat sudah sampai Sentani bang.
    Saya jadi ingat ada teman yang rumahnya di Sentani, namanya Robeth Felle; dan beliau menjadi dosen di Jayapura kalau tidak salah 🙂

    • Akhirnya setelah puluhan tahun bang haha

      Wahhh mustinya dikabarin yah sebelum ke sana kali kali bisa ngopi sama temannya hahah

  4. It is such a bless bisa menjejakkan kaki di serpihan surga Indonesia ini dan mendapatkan pengalaman budaya yang nggak terlupakan, bang. Semoga bisa segera menyusul ke Sentani 🙂

  5. Lalu kangen makan Papeda kaaak. Hihihi

  6. Tonenya ala2 film 300 ya kak, keren pas foto2 warga papua tu, wara kulitnya jadi makin eksotis

  7. Selamat kak, sudah sampai ke Papua hehehe. Pasti rasanya bangga banget bisa melihat budaya Papua langsung.

  8. Evi

    Alhamdulillah aku pernah meninggalkan jejak di Sentani dan berperahu menuju kampung Ase. Sayangnya tidak dalam festival. Jadi hanya melihat keindahan alamnya saja. Semoga tahun depan kesampaian lah melihat festival Danau Sentani. Adat istiadat di Papua ini unik semua ya, Kak Richo..

  9. Lho kok bisa samaan aku juga pakai Romsdal 😉

    Waktu tari Isosolo aku sampai membayangkan bagaimana suasana masa silam saat mereka menyemangati prajurit yang mau berperang dengan tarian tsb.. Pasti epic banget berasa film2 epic kolosal..

    • kan satu manahemen bosque wkwk

      Epicnya sampai ke ubun ubun yo. Mereka melakukannya tanpa kaku pula. Djoss abis!

  10. Masa cuma sepenggal, tambahin lagi dong ceritanya martaaa

  11. Gak ikutan digambar ya bang Richo? Cakep tuh kalau ikutan digambar syukur bisa sekalian pake baju yang sama..

  12. Kapan-kapan ajakin dong om ke Papua….

Leave a Reply

Theme by Anders Norén