Amerika, DESTINATION, Others

Scholarship In America, Air Mata dan Asa (CCI Program 2017)

beasiswa-amerika-2017-ccip

Kini bayang-bayang akan tidak punya harapan itu perlahan menjauh dari benak yang dulu merajalela. Senyum yang dulu hilang kini telah kembali. 

Tinggal di Bali selama 4 tahun bukan perkara mudah buat saya. Begitu banyak orang dengan mudah menilai kalau hidup di Bali itu sudah jelas tenang dan nikmat. "Enak yah hidup loe sekarang di Bali" saya setuju, setuju enak banget dan gampang banget bilangnya haha.

Tepat 7 tahun lalu saya lulus kuliah dengan IPK yang bisa dibilang cukup buat diri sendiri aja, gak rela bagi-bagi :). Eh tapi semester 1-2 Cum Laude deh hehe *mulai dengki.  Karena orangtua saya bukan PNS, bukan pengusaha besar dan bukan pekerja kantoran jadilah saya harus menyelesaikan studi saya di Medan dengan cepat. Orangtua saya udah mulai give up kalau sampai saya lama tamatnya. Berkat konsistensi dan tanpa tedeng aling-aling, kurang dari 4 tahun jadilah saya Sarjana Sastra Inggris.

Semenjak saya tinggal di Bali, beberapa teman masa kecil saya tahu, mereka memuji saya secara berlebihan. Ada yang menganggap saya sudah sukses besar di sana. Ada yang bilang juga saya sudah menikah dengan bule sehingga saya udah punya banyak uang haha. Semua itu salah besar. Saya hanya seorang pria polos yang mencoba bertahan hidup di kampung orang.

Mungkin tidak banyak yang tahu kalau ketika SMP saya adalah korban bully. Saya pernah diperlakukan tidak adil sama teman-teman saya. Bully-an pernah berakhir pada kekerasan fisik yang membuat mata saya bengkak dan wajah saya memar. Alasan kenapa di bully? Sering karena saya tidak mau berbagi PR. Ada juga karena saya tidak mau ikut-ikutan merokok. Saat itu memang citra anak remaja dipandang dari pergaulannya. Saya juga tidak paham bagaimana semua hal itu bisa terjadi kala itu. Kalau mengingatnya, air mata saya selalu menetes. Percaya atau tidak, ketika menuliskan kalimat-kalimat ini, saya menangis besar. Entahlah, di sisi lain saya beruntung banget dengan segala kesempatan yang saya dapat saat ini. Kejahatan tidak harus selalu dibalas dengan hal yang sama. Kalau kata orang "dibalas dengan karya aja." Ini juga salah satu alasan saya kenapa saya harus merantau. Saya yakin kesempatan untuk hidup lebih baik masih ada.

4 bulan sebelum wisuda, saya diterima bekerja di salah satu bank swasta (gak usah disebut karena gak dibayar hihi). Sebenarnya menjadi anak kantoran dan di bank pula bukanlah pilihan saya, tapi keadaan yang memaksa kala itu yang membuat saya tidak bisa manja dan tidak bisa pilih kerjaan sesuai dengan passion. Inginnya sih lanjut kuliah dengan mengandalkan tekat yang kuat. Semua tinggal kenangan kala itu. Saya hanyalah anak kantoran yang menurut saya gak ada keren-kerennya dengan kemeja dan celana formal ketat itu. Hidup saya gusar tak menentu. Bekerja dari jam 8 pagi hingga jam 8 malam. Budak di negeri sendiri, bukan?

Karena memang semasa kuliah saya aktiv mengikuti seminar pendidikan luar negeri di Medan, jadi begitu lulus kuliah saya rasanya tidak mudah meninggalkan kebiasan itu. Niat untuk kuliah lagi masih ada di dalam jiwa walau hanya tinggal beberapa persen. Karena saya udah berada di kampung, harapan itu semakin tipis dan nyaris hilang.

Kurang dari 2 tahun saya mengabdi di dunia perbankan, saya putuskan untuk resign dan siap memulai perjalanan baru dan kesengsaraan baru. Langkah ini memang gak gampang. Denpasar!!! kota inilah yang pertama kali masuk ke pikiran saya. Tanpa mikir panjang, saya langsung buat rencana dengan segala keterbatasan yang saya punya saat itu.

Tahun 2013 adalah babak baru dalam hidup saya di Bali. Tak satu pun sebenarnya keluarga mengijinkan saya untuk tinggal di Bali. Keluarga saya banyak di Bandung. Orangtua ingin saya bersama keluarga di sana supaya lebih aman. Namun, saya tetap kekeuh melangkah dengan rencana awal. Saya terbang ke Denpasar, Bali.

Hidup di Bali tidak mudah. Saya harus bekerja keras mencari pekerjaan untuk bertahan hidup.  Namanya juga hidup, saya yakin tidak akan selalu berjalan mulus. Benturan dan tantangan yang saya hadapi tidak kecil. Saya pun pernah hampir frustrasi karena saya belum kunjung mendapatkan pekerjaan. Tabungan sudah sampai di titik terendah alias kosong. Ini tidak gampang buat saya yang notabene harus berjuang sendiri tanpa bantuan siapa pun. Janji saya untuk tidak "mengemis" kepada keluarga pun harus saya pegang teguh.

Saya mencoba berbenah dan memanfaatkan setiap peluang yang ada. Di bulan ke 4 saya berada di Bali, saya diterima sebagai penyiar radio anak muda di Denpasar. Saya malah lupa dapat pekerjaan ini dari website mana. Yang jelas saya coba ikutin alurnya dan terima pekerjaan itu. Gajinya besar gak? Buat bensin aja kurang 🙁

Singkatnya, saya menjadi penyiar sekitar 4 tahun. Sementara di tahun 2015 saya  memulai karir saya sebagai travel blogger. Sebuah profesi yang belum populer kala itu. Saya semakin giat nulis di blog saya yang masih gratisan kala itu.

Sebenarnya ketika teman saya memberikan informasi tentang beasiswa di US, saya sih gak begitu tertarik. Menurut saya mimpi untuk belajar di negeri orang itu udah hilang sejak saya tamat kuliah. Karena teman yakin saya punya potensi, jadilah di akhir tahun 2016 saya apply Community College Initiative Program.

Saya kok belum yakin yah dengan beasiswa ini. Saya masih ragu kalau beasiswa ini paling akan memilih orang-orang terdekat penyelenggara. Kayaknya beasiswa ini cuman formalitas deh. Segala pikiran negatif begitu membuncah di otak saya. Saya berusaha tidak memikirkan lagi setelah apply.

Tanggal 27 Desember 2016 adalah hari campur aduk sejagad buat saya. Bahagia dan sedih bercampur jadi satu kayak lagunya 3 Diva. Hari yang paling saya tunggu itu pun tiba. Saya dapat email dari AMINEF (American Indonesian Exchange Foundation) berikut ini:

aminef-ccip-2017

Rasanya memang berlebihan kala itu saya sampai histeris begitu baca email ini. Saya belum percaya ini benar. Saya menyebutnya email sakti yang menjadi awal dari nasib baru saya. Lewat email ini pertempuran berikutnya akan dimulai. Saya siap untuk itu walau ada rasa kuatir haha.

18 Januari 2017 saya terbang ke Jakarta (ini dibayarin full) untuk mengikuti tes TOEFL dan wawancara yang diadakan di gedung AMINEF. Di sini lah saya bertemu puluhan peserta lain dari berbagai daerah di Indonesia. Ketika saya bertemu dengan mereka, tekanan di kepala saya semakin tinggi dan menegangkan. Bisa gak yah saya bersaing dengan  mereka? Sekilas pikiran itu muncul di otak saya. Untungnya beberapa hari kemudian saya dapat email sakti lagi kalau saya lolos ke babak berikutnya ((babak berikutnya)) berasa masuk Idol banget ini :).

Perjuangan udah sampai di situ aja terus siap berangkat ke US? Gak dong, masih banyak tantangan yang menunggu di depan mata. Selanjutnya saya harus melakukan Medical Check up. Tantangan yang saya hadapi di tahap ini begitu sulit mendapatkan salah satu vaksin di Bali. Hampir semua Rumah Sakit dan Klinik saya kunjungi dan vaksin tersebut tidak tersedia sama sekali. Untungnya saya dapat informasi jika vaksin yang saya butuhkan ada di Surabaya. Jadilah saya ke Surabaya. Naik bus 12 jam dan jalan malam pula. Oke fine!

Pre Departure Orientation (PDO)

Ini adalah email selected participant  terakhir yang saya terima. Oh God!

Dua tahap terakhir yang harus saya lalui untuk menyelesaikan perjuangan mendapatkan beasiswa ini adalah PDO dan juga wawancara visa.  Pre Departure Orientation dilakukan di hotel Aston Bogor selama 5 hari. Ini adalah minggu paling berkesan dalam hidup saya. Bahagia dan juga sedih bercampur juga di sini. Gimana gak senang, dari ribuan orang yang mendaftar beasiswa ini, hanya ada 30 orang dari kami yang terpilih dan berhak ikut dalam persiapan keberangkatan ini.

Setiap hari kami mendapat banyak pelajaran buat bekal di US nanti. Yang paling buat saya hampir nangis ketika PDO segera berakhir. Sedih rasanya harus berpisah dengan teman-teman lain sebelum berangkat 2 bulan kemudian. Terus kenapa sedih? Karena keenakan selama PDO :). Pre Departure tahun ini dilakukan tanggal 22 - 26 Mei 2017. Sedangkan keberangkatan kami tanggal 16 Juli 2017.

ccip-beasiswa-amerika-2017

Visa Interview

Ini adalah kali pertama saya wawancara visa. Ada rasa kuatir juga diterima atau ditolak visanya. Secara peraturan imigrasi Amerika Serikat saat ini lebih ketat, katanya begitu. Namun setelah antri sejak jam 6 pagi, jelang makan siang visa saya pun disetujui dan leganya luar biasa. Lord have Mercy! Oh yah, wawancara visa Amerika dilakukan di US Embassy Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan no 3-5. Kala itu yang mewawancara saya adalah staff dari Amerika. Hal yang ditanyakan cukup mendasar: Tujuan ke Amerika untuk apa, berapa lama di Amerika dan biasanya mereka juga menanyakan hal yang lucu. Intinya tetap fokus pada pertanyaan dan jawab secara jelas dan tidak berbelit-belit.

Selamat kamu lanjut ke babak berikutnya! 

Till We Meet Again Indonesia

Belum juga rasa haru dan bangga pada diri sendiri berakhir, rasa sedih udah datang aja. Waktu yang ditunggu pun tiba. Kami mahasiswa Indonesia akan berangkat ke US. Teman-teman dari berbagai daerah sudah tiba di Jakarta sebelum hari H keberangkatan. Sedihnya harus meninggalkan kampung halaman, keluarga dan orang-orang kesayangan untuk jangka waktu yang cukup lama. Ini adalah kali pertama saya bepergian terlama ke luar negeri. Biasa juga cuman 1 Minggu, itu pun udah kangen aja sama nasi Padang. Tapi ini misi mulia, saya harus siap.

Karena negara bagian yang kami tuju berbeda, jadi kami tidak berangkat secara bersamaan. Saya, Miki, Paksi dan bang Yanu mendapat penempatan di Negara bagian Midwest, Iowa. Ini adalah negara bagian yang berada di tengah Amerika Serikat. Tahun ini ada sekitar 30 orang grantees yang berangkat (ini data terakhir yang saya dapat) ketika sudah berada di US.

Setelah perjalanan panjang dan memelahkan selama 18 jam dari Indonesia - Jepang - Dallas akhirnya saya, Miki dan Paksi mendarat di Cedar Rapids, kota tujuan kami di negara bagian Iowa. Oh yah, bang Yanu harus berpisah dengan kami di Jepang karena dari Narita, Tokyo transitnya ke Chicago bukan di Dallas bersama kami :(.

Mungkin karena kelamaan di dalam pesawat dengan suhu AC yang tak menentu, begitu mendarat di Cedar Rapids, saya merasa kedinginan yang luar biasa. Padahal bulan Juli sedang musim panas di Iowa.  Tapi rasa senang yang tak terbendung mengalahkan segalanya. "Welcome to Cedar Rapids, guys" kata Miss Jane dan Norma, yang menjemput kami kala itu. Ahhh senangnya!

Ketika tulisan ini naik ke permukaan, saya sudah berada di Cedar Rapids sekitar 1 bulan lebih. Saya disibukkan dengan segala urusan perkuliahan, tempat tinggal dan segala receh-recehnya. Saya baru bisa merampungkan cerita ini setelah tertunda lama. Oh yah, saya kuliah di Kirkwood Community College dengan jurusan Social Media. Saya juga belajar tentang broadcasting dan photography.  

Satu bulan pertama kuliah di sini adalah pengalaman yang sangat berkesan. Saya kembali lagi ke bangku kuliah setelah 5 tahun pensiun :). Dengan suasana kampus yang sangat mendukung, saya harus bilang, ini adalah kampus terkeren yang pernah saya temui. Anyway, Kirkwood Community College ini adalah salah satu community college terbaik di US.

Cerita tentang dunia perkuliahan di US dan kehidupan sehari-hari seperti apa, saya akan share di tulisan berikutnya. Oh yah, saya juga buat VLOG seputar beasiswa selama di US. Silahkan ditonton di bawah ini 🙂

   

22 Comments

  1. Hiks kisahnya sedih 🙁

    Syukurlah sekarang berbuah manis. Selamat menjadi anak kampus lagi dan gapai American Dream yah!

  2. Semangat kuliah kak richooo!

  3. Mangats babang.. aku kok baca email2nya kadi keinginan greget2 zaman dlu yaa

  4. kerennnn .. dapat beasiswa … mudah2-an ilmunya berguna bagi nusa dan bangsa .. memajukan bangsa kita

  5. Wah s3lamat kak, selamat menaklukkan negeri seberang

  6. aku terharu kak. hiks… sukses ya kak Icho. GBU. love you.. 😉

  7. kuterharu… kuliah yang baek di negeri sono ya karicho, keep in touch. pulang2 jadi rang sukses! mengangkat harkat martabat the tripsters management.

  8. Kak, tulisannya mengharu biru :'( Thanks for sharing, aku juga pernah jadi korban bully semasa sekolah, wah jadi pengen curhat 1 blog ini mah…

    Btw sempat lihat vlognya, itu jarak antara mess dengan kampus cukup jauh ya jalan kaki, hahaha! Kelihatan dari mood di wajahmu yg mulai uring2an 😀

    Gpp, pulang ke Indo pasti sudah jauh lebih singset!

  9. Saya mau ngaku nih. Kalau lagi blogwalking, kadang saya suka skip biar cepet sampai paragraf terakhir. Tapi, buat tulisan Kak Richo ini, saya baca setiap kata dengan melibatkan perasaan.

    Kak Richo, ini sangat menginspirasi!

  10. Al

    Selamat ya bang, semangat terus disana…

Leave a Reply