DESTINATION, Melaka

Jalan – Jalan Cantik Di Kota Melaka

Panas betul Melaka ini Pak Cik!

Lima anak muda yang cukup matang secara umur dan pemikiran, eh 4 deng + 1 pamun alias papa muda. Mereka berhasrat mengitari kota kecil di negeri Jiran yang berstatus kota warisan dunia (World Heritage) by UNESCO.

Melaka, kota yang awalnya saya pikir adalah tempat orang Indonesia berobat layaknya Penang yang identik dengan tujuan pemulihan penyakit. Image itu bertahun tahun berada di benak saya. Belum lagi foto-foto yang tersebar di internet sebagian besar adalah penampakan Christ Church,  sebuah gereja tua yang masih berdiri kokoh di pusat kota Melaka. Hal ini sontak mengejutkan saya ketika tiba di Melaka.

Saya terbang bersama AirAsia  dari Denpasar menuju Kuala Lumpur. Rupanya saya tiba 25 menit lebih awal dari jadwal seharusnya. Siang itu juga saya bertemu dengan 4 teman lainnya yang  juga terbang menggunakan AirAsia dari Jogja.  Setelah mengisi perut dengan masakan khas India di bandara, kami pun bergegas naik bus menuju kota tujuan, Melaka.

Pagi itu kami dipandu oleh Uncle Eddie, sosok tour guide yang paham betul seluk beluk kota Melaka. Sudah puluhan tahun Ia mengabdikan diri untuk kota kelahirannya. Ia setia mendampingi turis seperti kami yang ingin tahu cerita dan sejarah kota Melaka. Sesekali I called him Pak Cik!

Sejauh mata memandang, yang ada hanyalah rumah-rumah tua bekas peninggalan Belanda. Jalan Tun Tan Cheng Lock atau Heeren Street namanya. Kawasan ini memanjang ke Selatan yang mempertontonkan keindahan arsitektur klasik yang bernilai seni tinggi. Awalnya saya kira bangunan-bangunan ini tidak berpenghuni, rupanya masih digunakan oleh warga setempat rumah tinggal, tempat usaha dan bahkan ada yang difungsikan sebagai hotel atau homestay.

Keunikan lainnya dari kawasan Heeran ini adalah deretan mobil modern yang kontras dengan gedung-gedung tua yang berjejer rapi. Walau demikian, saya masih tetap suka melihat suasananya karena kenderaan terparkir dengan rapi tanpa mengganggu arus lalu lintas.

 

Sementara itu masih di kawasan Heeran Street terdapat Sunday market yang tepatnya berada di Jalan Hang Lekir. Sebuah pasar yang bisa dibilang semi tradisional. Para pedagang barang-barang antik membuka lapak di atas aspal hitam. Uniknya, tak satu pun sampah plastik atau kertas yang bertebaran saya lihat, bersih.

Pasar ini tidak begitu ramai namun  para calon pembeli yang tak lain adalah para turis yang sedang jalan kaki di sekitaran kota terlihat sedang tawar menawar dan pilih-pilih barang yang tertera.

Kami memang yang meminta untuk diajak jalan kaki berkeliling kota Melaka walau seandainya ditawari naik andong dan sejenisnya gak nolak juga hihi. City tour kami lanjutkan menyambangi beberapa klenteng dan kuburan tokoh berpengaruh di Melaka. Kami juga mampir ke bukit St. Paul, melihat keindahan kota Melaka dari ketinggian.

Jadi bagian mana yang paling saya suka dari Melaka? Kalau boleh jujur, gang-gang kecil yang sangat cantik dan menggemaskan yang ada di Melaka lah jadi favorit saya. Saya kagum bagaimana gang yang kalau di Indonesia itu jadi tempat kumuh dan bahkan selokannya seringkali banyak tikus dan sampah. Di Melaka? Semuanya disulap jadi karya seni yang indah.

Bukan hanya saya, teman-teman satu rombongan pun mengakui kalau gang-gang sempit di sudut kota Melaka, cantik kata mereka. Sayang gak banyak waktu buat foto-foto karena harus buru-buru ke lokasi menarik lainnya.

Kami melipir ke St. Paul Hill, bukit dengan peninggalan sejarah koloni yang menarik. Terdapat beberapa kuburan tokoh Belanda di area ini. Kuburan-kuburan tersebut masih terawat dengan baik. Tidak jauh dari lokasi ini, ada pula istana kesultanan Melaka, museum gubernur, museum sejarah dan museum bahasa. Indah memang sejarah Melaka ini.

Sebelum ke tujuan akhir yaitu Chris Church, kami melewati gereja St. Francis Xavier. Sebuah gereja yang berada di jantung kota wisata warisan dunia Melaka. Gereja ini miring, yah jika dilihat dari kejauhan nampak betul gereja ini miring ke kanan dari arah mata memandang.

Oh yah, persis di depan gereja yang berdiri pada tahun 1849 ini, terdapat beberapa batang pohon rindang yang merupakan asal muasal dari nama Melaka. Pohon Melaka yang memiliki daun kecil-kecil dan memiliki buah bulat hijau kecil. Inilah namanya buah Melaka dan dari sini pula asal dari nama kota Melaka.

The Legendary Chris Church Melaka!

Icon dari kota Melaka pun tak luput dari kunjungan kami. Sebenarnya kalau mau bolak-balik dari hotel juga bisa aja karena jaraknya yang berdekatan. Perlu diingat kalau gereja ini gak pernah sepi. Malam aja masih diserbu para turis.

Mission Accomplished!

Jalan-jalan cantik di Melaka berakhir sekitar 5 jam. Walau masih kurang namun apa daya badan udah terasa remuk. Namun tak ada usaha yang sia-sia. Explore Melaka telah terpenuhi.

Notes:
  • Airasia terbang ke Kuala Lumpur dari Denpasar setiap hari.
  • Dari Kuala Lumpur ke Melaka perlu sekitar 2 jam 30 menit menggunakan bus.
  • Rekomendasi penginapan di Melaka casadelrio
  • Dapatkan harga terbaik AirAsia Indonesia di www.airasia.com 
     

18 Comments

  1. Evi

    Gang-gang sempitnya memang bersih dan artistik. Pengelolaan yang seperti ini bikin iri. Kalau saja kota Tua Jakarta atau kota tua lain di Indonesia seperti ini . Foto-fotonya keren banget gak, Richo. Bersih dan tajam 🙂

  2. Evi

    Gak= Kak. Maaf typo 🙂

  3. Satu-satunya kendala jalan kaki seharian di Melaka adalah: panas terik. Lalu baterai kamera baru setengah hari udah pada habis, saking banyaknya obyek yang difoto, hahaha!

    Tapi masih pengen jelajah lagi masuk ke gang-gang cantiknya!

  4. cantik bangettt .. terawat dan bersih .. meskipun panas, senanglah jalan2 disini.
    coba ya gang2 di Indonesia tertata dan super bersih seperti itu … #NgarepAja

  5. Bersih sama rapi sekali, entah kenapa jadi mellow rasanya lihat kota indah dan sepi. Seandainya Indonesia seperti ini.

  6. main kesini sambil jalan kaki, menelusuri ke gang gang pasti keceh

  7. Kece banget videonya. Oiya bisikin dong Mas, guide di Melaka kisaran berapa, aku pengen explore Melaka juga soalnya. Lebih seru kalau sama orang lokal yang berti tempat2 bersejarah sekaligus tempat yang jadi favorit warga lokal 😀

    • Utk rate mereka sekali mandu gak dapat info mba hehe (kemarin dapat complimentary dari paket hotel)

      Cuman bisa coba dikontak hotel Casa Del Rio Melaka yah deket Jonker Walk, namanya Uncle Eddie. He is the best guide.

  8. memorable trip! destinasi keren, hotel mewah, makanan enak, all in transport, masyarakat lokal yang ramah dan yang paling asik adalah travelmate nya gilak!

    senang sekali bisa jalan sama kalian, kak richo, kagio, kastin, kakbob… yah meski kastaku dibedakan dari kalian bukan anak muda lagi, udah masuk kategori papah muda katanya, it’s oke lah, suka-suka kalian, yang penting pada happy jalan sama papa

    #halah

    oiya, siapin tenaga & uang saku buat jalan ke Iran & Taiwan! gausah pada boros jajan dulu! puasa senin kamis biar irit! 😀

  9. Junita Veronica Diding

    Keren. Harus jadi salah satu destinasi wisata setelah pulang dr US nanti.

Leave a Reply