DESTINATION, Java, Jawa

Desa Wisata Hingga Malam Karnival Di Semarang

Beberapa hari sebelum menginjakkan kaki di bumi Jawa Tengah, saya sempat posting foto kota lama, Semarang di instagram. Jadi gini, Jawa Tengah udah kayak kampung sendiri yang setiap kali kembali senangnya gak karuan. Terutama kota Semarang. Kota ini punya tempat yang tidak biasa di hati saya.

Awal bulan Mei rupanya cuaca Semarang sangat cerah. Baju hitam yang saya gunakan mulai basah dan lecek. Tapi bukan mau membahas kostum kali ini, tapi cerita seru trip di desa wisata Semarang dan menyaksikan atraksi warga Semarang dalam Semarang Night Carnival 2017.

Hari pertama bersama rombongan BP2KS (Badan Promosi Pariwisata Kota Semarang) menyambangi Goa Kreo yang tahun lalu juga sempat saya singgahi. Tidak banyak yang berubah di Kreo. Yang pasti yang wajib ada di sini adalah puluhan bahkan ratusan gerombolan monyet menjadi penghuni Goa Kreo dan sekitarnya.

Goa Kreo menawarkan sensasi yang berbeda. Buat pengunjung baru yang "mungkin paranoid dengan monyet, sebaiknya hati-hati. Monyet-monyet di sini memang tidak separah dan seagresif monyet di Uluwatu, Bali, tapi waspada juga perlu karena ada beberapa monyet suka mengincar isi tas atau botol minuman. Kali ini kami beruntung menyaksikan atraksi panjat pinang para monyet. Mereka berebut naik ke puncak gemilang cahaya untuk mendapatkan makanan yang ada. Ini bukan penyikasaan binatang yah, tapi cara lain warga memberi makan mereka agar tidak terjadi "penjarahan" makanan di pemukiman warga.

Spot favorit saya untuk foto adalah Jembatan di atas Waduk Jatibarang. Jembatan ini masih berada di area Goa Kreo.

Kampung  Herbal Jatirejo

Tidak jauh dari Goa Kreo, desa Jatirejo menjadi tujuan kami selanjutnya. Menyaksikan para ibu-ibu lokal mengolah kolang kaling mentah sampai bisa dimakan. Menarik banget ini mah! Selama ini tahunya udah jadi dan tinggal makan aja, hih.

Acara berikutnya (((acara))) udah kayak hajatan aja. Saya dan teman-teman blogger lainnya menjajal  Trabas di desa Jatirejo. Treknya sih lumayan, lumayan licin karena becek yah. Sekitar 2 km jarak yang musti ditempuh menuju pemandangan di Waduk Jatibarang. Sumpah deh yah, motor trailnya sedikit manja, setiap 5 langkah mesinnya mati. Sama kayak pacar lima langkah, bedanya itu suka #dibahas 🙁

Tapi yang seru yah teriak-teriakannya. Yang paling luar biasa lagi, saya dan 3 teman lainnya kesasar, padahal areanya cuman di situ-situ aja, haha.

Aroma Vietnam Terasa Di Hutan Mangrove Tapak

Seru juga ternyata keliling hutan mangrove pakai perahu kecil yang hanya berisi 6 orang. Kami dibawa menyusuri hutan magrove sambil diperkenalkan oleh si mba guide, begitu besarnya peran magrove rupanya.

Belum lagi kami mampir di Pulau Tirang, satu-satunya pulau kecil yang masih ada di kawasan ini. Penanaman bibit mangrove pun rutin dilakukan di sini untuk menahan abrasi laut. Oh iyah, wisata magrove ini juga udah dibuka untuk umum. Paketannya pun murah mulai dari 30 ribu rupiah saja. Pengunjung akan dibawa berkeliling melihat hutan magrove. Paket lainnya adalah menangkap udang yang dibudidayakan oleh warga lokal.

Sejumlah ban mobil bekas disusun rapi untuk menahan goncangan air laut. Di dalamnya ditanam pohon magrove biar semakin kuat. Brilian!

Sebelum menyaksikan #SemarangHebat yang dirangkum dalam Semarang Night Carnival, kami menikmati makan ramai-ramai dengan menu terpanjang yang belum pernah saya saksikan sepanjang hidup. Nasi Branjangan namanya.  Menu makanan khas lokal beralas daun pisang disusun rapi diatas meja yang memanjang.

Menurut cerita sang manager hotel Pandanaran, nasi branjangan ini sedang booming di Semarang dan beberapa resto dan hotel di Indonesia mulai mengikutinya. Unik!

Puncak Acara #SemarangNightCarnival 470 Tahun Kota Semarang 

Masih mengangkat tema yang tidak jauh beda dengan tahun lalu, tahun ini SNC (Semarang Night Carnival) menampilkan keberagaman kota Semarang lewat atraksi karnival dari berbagai kelompok masyarakat Semarang. Hebatnya lagi, ada beberapa perwakilan dari negara lain seperti Thailand, Korea, India menampilkan atraksi kesenian mereka malam itu.

Semarang Night Carnival dibuka dengan atraksi memukau dari adek-adek emes AKMIL. Seperti penampilan tahun lalu dengan seragam khas mereka. Namun menurut saya, penampilan mereka tahun lalu masih lebih greget. Mulai dari jumlah personil yang tampil sampai dengan durasi tampil. Tahun ini begitu singkat dan jenis atraksi yang mereka bawakan cenderung sedikit.

Cuaca yang bagus malam itu membuat suasana di lokasi Karnival menjadi seru walau gerah. Saya sampai pindah tempat beberapa kali karena desakan penonton semakin tak terbendung.

Yang tak bisa dilewatkan dari Semarang Night Carnival adalah pawai busana karya anak lokal. Saya kagum dengan usaha dibalik rancangan-rancangan unik itu. Belum lagi detil dan beratnya. Sepertinya saya bisa lelah jika menggunakannya.

Semakin malam semakin ramai dan para penampil semakin banyak. "Ratu" lampion pun turun ke bumi meramaikan karnival sekali setahun ini.

Dirgahayu Kota Semarang yang ke 470! 

   

8 Comments

  1. Sukak deh ama pose kak Rio di jembatan waduk Jatibarang. Bak foto model kekinian.

  2. Tau gitu minta diboncengin naek trabas deh :p

    Wah saya juga ngerasa pertunjukan dedek emes harusnya bisa lebih wow yak!

  3. Evi

    Seru banget jelajah Semarangnya Kak Richo. Saya sudah ke Goa Kreo tapi belum ke Desa Jati Rejo. Nanti kalau datang lagi mau mampir ke sana ah..

    Dan SNC kostumnya santapan banget untuk camera. Meriah dan indah 🙂

  4. Gak ada kisah si bapak gokil, bapak polisi pariwisata nih?

Leave a Reply